Perayaan Tanpa Seorang
Sebuah Kisah Karya Ignatiusbulele
Rembulan mengintip malu dari balik kabut tipis. Dalam sepinya jalan Kota Magelang, rembulan berusaha memancarkan sinarnya. Angin malam mulai mendesis. Suasana dingin menyebar di setiap sudut Kota Magelang menemani bunga-bunga yang bermekaran. Malam yang indah bukan? Seharusnya begitu. Namun tidak bagi Reno. Malam ini, sudah genap tiga bulan, ia tidak pernah pulang ke rumah. Sejuta pikiran berkecamuk dalam dirinya. Ingin sekali ia lari dari dunia ini. Perasaan carut-marut, bulir air yang kian deras menyusuri kening sehingga terlihat mengkilap, dan jarum yang menunjukkan angka 120 pada speedometer jadi bukti bila malam ini bukanlah malam yang indah. Rasanya ingin sekali ia menghardik dirinya sendiri.
***
Yogyakarta
jadi kota yang kutuju. Kota untuk melanjutkan pendidikanku ke tahap
selanjutnya. Wajar saja, ini kota pelajar. Kota untuk orang-orang—mungkin hanya
pelajar—menimba ilmu pengetahuan. Tapi bagi sebagian orang yang pernah menetap
di sini, kota ini penuh dengan sejuta keindahan. Kata orang-orang. Setiap
sudutnya penuh dengan hal yang bisa saja diromantisasi. Ya, romantisasi yang
tidak harus merogoh kocek hingga dompet merintih. Kata orang-orang. Aku hanya
percaya saja.
“Monggo, Mas es teh kampulnya,” ucapan Mas Haris sambil menyodorkan segelas teh dengan potongan lemon. Sangat menyegarkan.
Cuaca Jogja memang sedang terik-teriknya. Akhir-akhir ini pun sudah jarang hujan membumi. Yang ada hanyalah panas yang menyengat, menghasilkan bercak-bercak pada kaus putih yang kukenakan.
“Kok sepertinya saya baru melihat masnya di angkringan saya. Anak kos baru ya?” tanya Mas Haris dengan penuh penasaran.
“Iya mas,
benar. Saya anak kos baru, baru pindah hari ini,” ucapku singkat sambil segera
meneguk segelas es teh kampul yang sudah dari tadi ingin membasuh
kerongkonganku yang kering ini.
Kos baruku
memang letaknya cukup strategis. Letaknya tidak jauh dari kampus dan beberapa
fasilitas umum lainnya pun mudah untuk dijangkau. Meskipun di tengah kota,
suasana di dalam kos pun asri dan tidak terdengar hiruk-pikuk kendaraan
berlalu-lalang. Fasilitas kos yang lengkap pun menjadi nilai tambah dari kos
tersebut. Di depan kos terdapat angkringan yang cukup bersih, menghapuskan
stigma tentang angkringan yang berjualan seadanya. Mas Haris selaku penjual pun
benar-benar melayani dengan baik, selayaknya pelayan-pelayan di restoran.
Meskipun hanya disediakan dua kursi panjang dan satu tikar untuk lesehan,
fasilitas itu sudah lebih dari cukup. Yang terpenting bersih.
“Sampun
, Mas. Semuanya berapa?” ucapku sambil menunjuk apa saja yang sudah kulahap
tuntas.
“Semuanya
dua belas ribu rupiah.”
“Yang benar, Mas? Saya makan banyak banget tadi,” ucapku keheranan.
Awalnya, aku mengira Mas Haris salah menyebutkan harga. Sebab pernah suatu hari—saat baru tiba di Yogyakarta, saat melakukan pendaftaran kampus—aku makan di salah satu angkringan, harga yang harus kubayarkan tidak sesuai dengan apa yang sudah aku makan. Mungkin memang harganya segitu, atau mungkin pedagang sedang aji mumpung. Maka dari itu tidak heran bila responsku terhadap perkataan Mas Haris jadi seperti itu.
Selain bersih, angkringan Mas Haris memanglah murah. Hal
ini sekaligus menegaskan bahawa memang makan di angkringan harusnya murah.
“Ini, Mas uangnya,” ucapku sambil menyerahkan enam lembar
nominal dua ribu rupiah.
“Matur nuwun, Mas. Besok-besok kalau merasa sepi di kos, bisa ngangkring di sini. Bisa mabar juga kita,” ucap Mas Haris sambil tertawa kecil.
Ucapan Mas Haris tadi seketika menohok diriku. Menyadarkanku betapa menyedihkannya diri ini, atau mungkin juga menyenangkan. Menyedihkan karena kulalui hari-hariku tanpa seorang pun. Melahap hari-hari yang sepi ini dengan berteman diri sendiri. Ya, aku hanya punya aku. Sedangkan menyenangkannya, karena aku bisa menjadi seorang burung yang bisa terbang bebas semauku. Memangkas sepi dengan terbang ke mana pun yang kumau. Meski tiada arah.
Sejak duduk di bangku SMA, memang diriku sudah terbiasa
dengan kesendirian, dengan kesepian. Bahkan teman-temanku pun cukup heran bila
akhirnya aku memiliki teman, berjalan di selasar kelas dengan orang di
sampingku. Mereka semua tidak cukup familiar dengan pemandangan seperti itu.
Maka tak heran bila julukan ‘si penyendiri’ melekat untukku.
“Eh, itu si Reno jalan sama siapa tuh?”
“Emang si Reno punya teman ya?”
“Bukannya ‘si penyendiri’ itu lebih suka menyendiri?”
Begitulah ucapan yang sering terdengar tatkala diriku
memiliki teman. Peristiwa yang berbeda dari biasanya menurut beberapa temanku.
Ya, memang mereka semua tidak memusuhiku, tetapi memang aku yang merasa kurang
cocok dengan orang lain. Bagiku, menemukan seseorang yang cocok dengan diriku
bagaikan mencari huruf ‘N’ pada kertas permen yosan.
“Oh, iya-iya, Mas. Kalau merasa sepi, saya akan ke sini,”
ucapku sambil menertawakan kenyataan yang sama sekali tidak lucu.
Akhirnya, pelan namun pasti, angin membawaku pergi
meninggalkan angkringan Mas Haris. Pergi untuk melanjutkan kehidupanku di Kota
Jogja yang baru saja kumulai hari itu.
***
Kehidupanku
di Jogja berjalan seperti layaknya mahasiswa biasa. Yang tidak biasa adalah
seorang Reno ‘si penyendiri’, sudah mulai membuka diri. Membuka diri untuk
menerima orang baru sebagai teman ataupun ‘teman’. Membuka diri karena memang
mau membuka diri, atau sebagai pelarian dari kesepian yang kurasakan. Kesepian
yang menggerogotiku. Memaksaku untuk tetap terjaga hingga sepertiga malam.
Menikmati sebatang, dua batang, tiga batang, empat batang, hingga menjadi
kumpulan puntung yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya, tertata dengan rapi
dalam sebuah asbak di sudut meja belajarku. Mereka jadi saksi bisu, bahkan
menjadi rekan merenungkan kenyataan. Menjadi rekan saat diri ini memacu pikiran
di jam yang seharusnya digunakan untuk merebahkan diri, memejamkan mata, dan
mengistirahatkan raga. Padahal entah garis finish mana yang coba
dicapai. Sesekali, pikiran ini tertambat pada dermaga masa depan. Dermaga yang
masih sangat jauh letaknya dan belum tergambarkan seperti apa wujudnya.
***
Semesta
memang berpihak kepadaku. Pada suatu kepanitian kampus—kepanitian skala
universitas yang diikuti oleh semua mahasiswa dari berbagai fakultas dan
jurusan—yang kuikuti pada tahun ketigaku menjabat gelar seorang mahasiswa, asa
itu mulai muncul. Asa yang muncul karena pertemuanku dengan Gendis, mahasiswi
tahun kedua dari jurusan Sistem Informasi. Sama seperti namanya, parasnya pun
semanis gula jawa. Lesung pipi yang terukir sepasang di ujung senyum manisnya
menegaskan dia merupakan pribadi yang ramah. Binar yang mencuat dari matanya
pun menggambarkan optimisme yang selalu membara dalam dirinya. Meski membara,
bisa kujumpai keteduhan dalam dirinya. Apakah ini ‘rumah’ yang bisa kutinggali?
Atau bahkan kusungguhi? Sebab rumahku tidak nyaman untuk ditinggali.
“Hai,
Gendis. Aku Reno, salam kenal untuk perjumpaan kita yang pertama ini,” ucapku
seraya mengajaknya berjabat tangan. Tanda awal sebuah perkenalan.
“Eh,
hai juga Reno,” ucapnya terkejut. Mungkin
ia terkejut dengan caraku berkenalan? Mungkin ia terkejut mengapa aku
mengajaknya berjabat tangan? Atau mungkin dia tidak pernah berkenalan sambil
berjabat tangan? Mungkinkah ini terlalu formal? Tapi hal itu tidak penting,
sebab dia pun membalas jabatan tanganku, tanda awal sebuah perkenalan.
“Senang
berkenalan denganmu. Sepertinya kita sama-sama berada dalam satu divisi. Semoga
bisa bekerja sama ya,” ucapku penuh keyakinan. Meski ini merupakan pengalaman
pertamaku mengikuti kepanitiaan. Pengalaman pertamaku menjadi sekretaris. Dan
juga pengalaman pertama membuka diri di dunia perkuliahan. Meskipun bisa
dibilang terlambat sebab aku sudah semester 6, tapi tidak apa.
“Ya!
Semoga kita bisa bekerja sama. Aku tidak sabar untuk segera terlibat dalam
acara ini,” ucapan itu diakhiri oleh senyum tipis. Senyum yang meski tipis
sudah mampu menyembulkan lesung pipinya.
***
Tiga bulan
setelah perjumpaan pertamaku dengan Gendis, relasi kami berjalan semakin baik.
Seperti rekan kerja yang menunjukkan profesionalismenya, kami berkolaborasi
menyelesaikan tugas-tugas kami sebagai seorang sekretaris. Mulai dari
penyusunan anggaran dana beserta proposal acara, membuat berbagai surat untuk
kepentingan masing-masing divisi; surat peminjaman ruangan dan alat untuk
divisi perlengkapan, surat pengajuan sponsorship untuk divisi dana
usaha, dan entah berapa banyak surat lainnya yang sudah kami selesaikan. Semua
tugas sebagai seorang sekretaris dalam kepanitiaan, kami selesaikan di
sela-sela kesibukan kami masing-masing. Kesibukan kuliah, mengerjakan tugas,
atau mungkin pacaran. Jelas yang terakhir itu tidak mungkin kulakukan, sebab
memang tidak ada seseorang yang bisa kuajak pacaran. Yang terakhir itu mungkin
dilakukan oleh Gendis. Entah dengan siapa dia melakukannya, aku tidak tahu.
Atau mungkin dia sama sepertiku, tidak pacaran? Mungkin karena memang tidak ada
seseorang yang bisa mengajaknya pacaran? Atau mungkin karena dia tidak mau
untuk diajak pacaran? Entahlah. Hingga saat ini, aku sama sekali tidak pernah
berani menanyakan hal tersebut kepadanya. Bagiku, menanyakan hal seperti itu
padanya, merupakan hal di luar tugas kami sebagai sekretaris dalam kepanitiaan.
Di sisi lain, aku juga sangat takut mendengar responsnya. Bisa saja respons
tersebut tidak sesuai dengan harapanku. Tapi memangnya aku berharap apa
darinya? Lagi-lagi, entahlah. Kepalaku seakan berputar-putar bila memikirkan
hal ini.
Selain
dikerjakan di sela-sela kesibukan kami masing-masing, beberapa kali aku
mengajak Gendis untuk mengerjakan di kedai kopi. Ya, tempat tersebut memang
lebih layak disebut dengan sebutan kedai kopi daripada coffee shop.
Sebab dari segi harga tidak terlalu mahal, dan terdapat Wi-Fi yang cukup
ngebut. Colokan listrik pun banyak, jadi tidak khawatir bila baterai laptop
usang ini habis. Maklum, laptop ini sudah lama dan baterainya sudah ‘bocor’.
Oiya, kedai kopi ini bukan angkringan Mas Haris, lho...
Dari sepuluh kali ajakanku, hanya satu yang ditolak Gendis. Itu pun karena dia sudah ada janji menemani sepupunya berbelanja di Mirota Kampus. Selebihnya, dia selalu mengatakan, “Ya, ayo. Gas aja. Biar cepat selesai dan gak jadi tanggungan”. Setelah itu, kami langsung bergegas menuju kedai kopi. Terkadang juga, aku memilih untuk berangkat bersama. Menjemput Gendis terlebih dahulu. Lalu, bergegas bersama menuju kedai kopi. Melaksanakan kewajiban yang wajib kami lakukan. Ya, sekadar melaksanakan kewajiban, bukan yang lain, atau bahkan pacaran. Setelah selesai melaksanakan kewajiban, Gendis pun kuantar kembali menuju kosnya. Meskipun ia sering menolak, katanya, “Ihh, kan kosku jauh, kasihan kamu.” Tapi bagiku, perkataan Gendis tadi bukan sebuah penolakan, karena sebagai seorang lelaki sejati pantang halnya membiarkan perempuan untuk pulang sendiri, apalagi hari sudah malam. Jalan Kota Jogja yang penuh keromantisan jadi saksi perjalanan kami saat itu. Lagi-lagi semesta berpihak kepadaku, tiada penghalang untukku merasakan romantisme dari kota ini. Sorot bulan purnama bagaikan lampu pentas yang sedang menyoroti kedua pemeran di panggung kehidupan. Rasanya tidak ingin kuselesaikan pementasan ini.
***
Hari ini—setelah
lima bulan melakukan persiapan—rangkaian acara kepanitiaan resmi selesai,
begitu juga dengan malam puncak ini. Semua yang sudah kami persiapkan berjalan
dengan lancar. Bapak rektor memberikan respons yang baik seraya menjabat tangan
kami. Terdengar pula suara telapak tangan yang saling beradu dari para tamu
undangan yang menghadiri acara Dies Natalis. Dalam diriku, aku merasa bangga
dengan pencapaianku ini. Tak pernah terpikirkan bahwa aku bisa terlibat dan
bekerja sama dengan banyak orang.
“Selamat
Reno! Akhirnya kita berhasil,” ucap Gendis mengagetkanku. Ucapannya memang
mengagetkanku yang tengah tenggelam dalam euforia diri. Tapi yang lebih
mengagetkan lagi, ucapan tersebut diikuti oleh pelukan erat yang tertambat pada
diriku. Benar-benar erat, seperti ditali rasanya. Aku bisa merasakan detak
jantungnya, aku bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari dirinya, dan aku
bisa merasakan kenyamanan yang selama ini belum pernah aku rasakan, sekalipun
di rumahku, di keluargaku. Tubuhku hanya bisa mematung, aku tenggelam lagi. Aku
tak bergerak sedikit pun, dan aku juga tak merespons apapun. Aku hanya diam.
Tapi tidak dengan pikiran ini. Pikiran ini berkeliaran kemana-mana.
Mempertanyakan, “Apa maksud ini semua?”, “Apakah ini ada artinya?”, “Apakah ini
sebuah tanda ?”, “Atau ini hanya euforia belaka?”
“Ren,
Reno! Kok diam saja?” Gendis melepaskan pelukan itu. Pelukan yang begitu erat.
Melepaskan semua kenyamanan yang rasanya hanya sesaat. Melepaskan harapan yang
sempat kutaruh meski hanya sesaat tatkala pelukan itu datang. Lalu hilang lagi.
Aku linglung. Ia menatap mataku. Aku kaget, panik, tapi coba tetap tenang.
“Ehh,
gapapa kok. Aku hanya terharu karena bisa sampai di titik ini. Selamat juga
Gendis! Terima kasih sudah mau bekerja sama denganku. Terima kasih sudah
memberikan pengalaman yang berharga bagiku. Akhirnya kita berhasil!” ucapku
sambil coba menahan air mata agar tak menetes.
***
Percakapanku dengan Gendis kala itu menjadi yang terakhir
kalinya. Tiada lagi dialog yang bisa kubangun dengannya. Tiada lagi alasan
bagiku untuk menghubunginya lagi. Tiada, sama sekali tidak ada. Asa itu pun
sudah redup, bahkan mati. Aku benci situasi seperti ini. Situasi yang sama
sekali tidak bisa kukendalikan. Siapa yang salah? Jelas aku yang salah. Sedari
kecil, aku selalu menjadi orang yang salah. Salah ambil keputusan, salah
bertindak berdasarkan keputusan yang tepat, bahkan lahir ke dunia saja
merupakan kesalahan bagiku. Sekarang, kesalahanku ialah terlalu berharap
padanya. Meletakkan kenyamanan menyusuri lautan dunia ini kepada orang yang
baru kukenal dalam kepanitiaan tersebut. Memang menyedihkan sekali menjadi diri
ini. Dan sekarang, apa yang bisa kulakukan? Tidak ada, selain menjadi ‘si
penyendiri’.
Sendiri bukanlah suatu yang menyedihkan. Aku sudah terbiasa
sejak SMA, bahkan sejak kecil. Selain menjadi orang yang selalu salah, sejak
kecil aku selalu sendiri. Kedua orang tuaku sibuk bekerja demi menyambung
kehidupan. Mereka meninggalkan rumah saat pagi buta dan kembali saat matahari
sudah tak bersinar. Mereka memang baik, tapi ketika mereka lelah, mereka
menyalahkanku. Seolah-olah apa yang mereka lakukan demi memenuhi kebutuhanku.
Pun menyalahkanku atas studi yang tak kunjung tuntas.
“Kapan kamu mau lulus? Sudah semester 10 belum juga
selesai!”
Itulah ucapan yang sering keluar dari mulut mereka. Ucapan
yang membuatku tertekan dan tak merasa ini rumahku. Padahal, apakah itu
kemauanku? Kesalahanku? Siapa juga yang tidak ingin segera lulus? Aku selalu
mengusahakan itu, tapi belum kunjung tiba hasilnya. Entahlah, aku bingung. Tapi
tenang, semua itu sudah bisa kunikmati layaknya menyantap makanan yang lezat.
Kulahap habis sendirian dan tak kubiarkan bersisa sedikit pun.
Sekarang, selepas kepergian Gendis, aku kembali hanya punya aku. Asa yang tadinya muncul dan kuharapkan muncul dari Gendis, sekarang sirna.
***
Dinginnya angin malam seolah menyadarkanku dari rangkain
peristiwa kala itu. Menyadarkanku bahwa peristiwa itu sudah berlalu. Yang ada
sekarang hanyalah diri ini sendiri, yang sebentar lagi akan sampai di basecamp
pendakian Gunung Sumbing. Basecamp itu berada di Kecamatan Kaliangkrik,
Kabupaten Magelang. Jalan yang kulalui kian berkabut. Kabut malam kian rapat
menutup jarak pandang terhadap sesuatu yang ada di depanku. Udara semakin
dingin hingga menusuk tulangku, sedangkan ingatan itu, menusuk hatiku. Kendaraan
semakin kupacu, ingin rasanya segera tiba dan segera menghangatkan tubuh ini.
Malam memang gelap, halimun kian rapat, tapi bayangan
gunung itu seperti bisa kulihat dengan jelas. Benar saja, di depan sana
kujumpai plang jalan yang mengarahkanku untuk belok dan masuk ke jalan kecil.
Jalan yang awalnya luas, halus, dan rata, sekarang berganti menjadi kecil,
bergelombang, dan tidak rata. Jalan tersebut memang bukan jalan yang dipenuhi
banyak kerikil, tetapi jalan tersebut bukan juga jalan yang dibalut oleh aspal
lagi. Hanya jalan cor desa yang mulai mengelupas. Jalan tersebut pun hanya muat
dilewati oleh satu kendaraan roda dua. Bila berpapasan, salah satunya harus
berhenti sebentar agar kendaraan lainnya bisa tetap lewat. Kanan dan kiri jalan
dihiasi oleh rumah-rumah yang berdekatan. Bila cuaca cerah, terlihat dari
kejauhan bahwa rumah-rumah tersebut membentuk terasering dengan latar belakang
Gunung Sumbing. Nepal Van Java sebutannya. Julukan yang muncul karena deretan
rumah dengan latar belakang Gunung Sumbing tersebut, punya kemiripan dengan
Pegunungan Himalaya di Nepal.
Setelah melalui perjalanan tersebut, sampailah aku di basecamp.
Bentuknya seperti rumah pada umumnya, hanya saja rumah ini dimanfaatkan oleh
penduduk desa sebagai basecamp pendakian. Ukurannya cukup besar untuk
sebuah rumah. Wajar saja, karena luas tanah yang dimiliki pun cukup luas.
Pemandangan yang jarang kutemukan saat berada di Jogja. Halaman depan rumah
tersebut juga cukup luas sehingga dimanfaatkan untuk memarkir motor pendaki.
Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Halimun kian pekat, udara
kian dingin, suhu menunjukkan di angka 8 derajat. Suhu udara yang sangat jarang
kurasakan. Kuputuskan untuk tetap terjaga sembari menunggu fajar menyembul dari
ufuk timur. Perjalanan akan ku mulai saat udara sudah tak lagi menusuk
tulangku. Sembari menunggu, kuseduh kopi hitam sebagai kawanku. Tidak hanya
menunggu, mungkin merenung juga.
***
Sang fajar
mulai menunjukkan dirinya. Mengusir halimun yang sedari tadi berkuasa akan alam
ini. Sengatannya kembali menyadarkanku tentang apa yang harus kulakukan
sekarang. Segera kukemasi carrier-ku. Kupastikan semua peralatan
lengkap. Tenda, matras, sleepingbag, kompor, nesting, headlamp,
jaket, sarung tangan, dan bekal makanan beserta air sudah tertata rapi di dalam
carrier. Aku siap memulai perjalananku ini. Perjalanan melupakan Gendis
dan segala kenangannya. Segala harapan, harapan yang kubangun sendiri.
Merayakan kesendirianku dan mulai berdamai.
Baru
beberapa ratus meter aku melangkah, gawai dalam kantongku berbunyi. Notifikasi
yang sepertinya kukenali.
GENDIS
Selamat
ulang tahun yang ke-24, Reno! Sehat selalu! Semoga segera menyelesaikan
studimu. Salam hangat.
Tepat hari ini hari ulang tahunku. Kurayakan dengan mendaki
gunung seorang diri. Perayaan tanpa seseorang pun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar