Kamis, 16 November 2023

Perayaan Tanpa Seorang

Sebuah Kisah Karya Ignatiusbulele



Rembulan mengintip malu dari balik kabut tipis. Dalam sepinya jalan Kota Magelang, rembulan berusaha memancarkan sinarnya. Angin malam mulai mendesis. Suasana dingin menyebar di setiap sudut Kota Magelang menemani bunga-bunga yang bermekaran. Malam yang indah bukan? Seharusnya begitu. Namun tidak bagi Reno. Malam ini, sudah genap tiga bulan, ia tidak pernah pulang ke rumah. Sejuta pikiran berkecamuk dalam dirinya. Ingin sekali ia lari dari dunia ini. Perasaan carut-marut, bulir air yang kian deras menyusuri kening sehingga terlihat mengkilap, dan jarum yang menunjukkan angka 120 pada speedometer jadi bukti bila malam ini bukanlah malam yang indah. Rasanya ingin sekali ia menghardik dirinya sendiri.


*** 

            Yogyakarta jadi kota yang kutuju. Kota untuk melanjutkan pendidikanku ke tahap selanjutnya. Wajar saja, ini kota pelajar. Kota untuk orang-orang—mungkin hanya pelajar—menimba ilmu pengetahuan. Tapi bagi sebagian orang yang pernah menetap di sini, kota ini penuh dengan sejuta keindahan. Kata orang-orang. Setiap sudutnya penuh dengan hal yang bisa saja diromantisasi. Ya, romantisasi yang tidak harus merogoh kocek hingga dompet merintih. Kata orang-orang. Aku hanya percaya saja.

        Monggo, Mas es teh kampulnya,” ucapan Mas Haris sambil menyodorkan segelas teh dengan potongan lemon. Sangat menyegarkan.

            Cuaca Jogja memang sedang terik-teriknya. Akhir-akhir ini pun sudah jarang hujan membumi. Yang ada hanyalah panas yang menyengat, menghasilkan bercak-bercak pada kaus putih yang kukenakan.

            “Kok sepertinya saya baru melihat masnya di angkringan saya. Anak kos baru ya?” tanya Mas Haris dengan penuh penasaran.

              “Iya mas, benar. Saya anak kos baru, baru pindah hari ini,” ucapku singkat sambil segera meneguk segelas es teh kampul yang sudah dari tadi ingin membasuh kerongkonganku yang kering ini.

                Kos baruku memang letaknya cukup strategis. Letaknya tidak jauh dari kampus dan beberapa fasilitas umum lainnya pun mudah untuk dijangkau. Meskipun di tengah kota, suasana di dalam kos pun asri dan tidak terdengar hiruk-pikuk kendaraan berlalu-lalang. Fasilitas kos yang lengkap pun menjadi nilai tambah dari kos tersebut. Di depan kos terdapat angkringan yang cukup bersih, menghapuskan stigma tentang angkringan yang berjualan seadanya. Mas Haris selaku penjual pun benar-benar melayani dengan baik, selayaknya pelayan-pelayan di restoran. Meskipun hanya disediakan dua kursi panjang dan satu tikar untuk lesehan, fasilitas itu sudah lebih dari cukup. Yang terpenting bersih.

                Sampun , Mas. Semuanya berapa?” ucapku sambil menunjuk apa saja yang sudah kulahap tuntas.

                “Semuanya dua belas ribu rupiah.”

                “Yang benar, Mas? Saya makan banyak banget tadi,” ucapku keheranan.

           Awalnya, aku mengira Mas Haris salah menyebutkan harga. Sebab pernah suatu hari—saat baru tiba di Yogyakarta, saat melakukan pendaftaran kampus—aku makan di salah satu angkringan, harga yang harus kubayarkan tidak sesuai dengan apa yang sudah aku makan. Mungkin memang harganya segitu, atau mungkin pedagang sedang aji mumpung. Maka dari itu tidak heran bila responsku terhadap perkataan Mas Haris jadi seperti itu.

Selain bersih, angkringan Mas Haris memanglah murah. Hal ini sekaligus menegaskan bahawa memang makan di angkringan harusnya murah.

“Ini, Mas uangnya,” ucapku sambil menyerahkan enam lembar nominal dua ribu rupiah.

Matur nuwun, Mas. Besok-besok kalau merasa sepi di kos, bisa ngangkring di sini. Bisa mabar juga kita,” ucap Mas Haris sambil tertawa kecil.

Ucapan Mas Haris tadi seketika menohok diriku. Menyadarkanku betapa menyedihkannya diri ini, atau mungkin juga menyenangkan. Menyedihkan karena kulalui hari-hariku tanpa seorang pun. Melahap hari-hari yang sepi ini dengan berteman diri sendiri. Ya, aku hanya punya aku. Sedangkan menyenangkannya, karena aku bisa menjadi seorang burung yang bisa terbang bebas semauku. Memangkas sepi dengan terbang ke mana pun yang kumau. Meski tiada arah.

Sejak duduk di bangku SMA, memang diriku sudah terbiasa dengan kesendirian, dengan kesepian. Bahkan teman-temanku pun cukup heran bila akhirnya aku memiliki teman, berjalan di selasar kelas dengan orang di sampingku. Mereka semua tidak cukup familiar dengan pemandangan seperti itu. Maka tak heran bila julukan ‘si penyendiri’ melekat untukku.

Eh, itu si Reno jalan sama siapa tuh?”

“Emang si Reno punya teman ya?”

“Bukannya ‘si penyendiri’ itu lebih suka menyendiri?”

Begitulah ucapan yang sering terdengar tatkala diriku memiliki teman. Peristiwa yang berbeda dari biasanya menurut beberapa temanku. Ya, memang mereka semua tidak memusuhiku, tetapi memang aku yang merasa kurang cocok dengan orang lain. Bagiku, menemukan seseorang yang cocok dengan diriku bagaikan mencari huruf ‘N’ pada kertas permen yosan.

“Oh, iya-iya, Mas. Kalau merasa sepi, saya akan ke sini,” ucapku sambil menertawakan kenyataan yang sama sekali tidak lucu.

Akhirnya, pelan namun pasti, angin membawaku pergi meninggalkan angkringan Mas Haris. Pergi untuk melanjutkan kehidupanku di Kota Jogja yang baru saja kumulai hari itu.

 

*** 

            Kehidupanku di Jogja berjalan seperti layaknya mahasiswa biasa. Yang tidak biasa adalah seorang Reno ‘si penyendiri’, sudah mulai membuka diri. Membuka diri untuk menerima orang baru sebagai teman ataupun ‘teman’. Membuka diri karena memang mau membuka diri, atau sebagai pelarian dari kesepian yang kurasakan. Kesepian yang menggerogotiku. Memaksaku untuk tetap terjaga hingga sepertiga malam. Menikmati sebatang, dua batang, tiga batang, empat batang, hingga menjadi kumpulan puntung yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya, tertata dengan rapi dalam sebuah asbak di sudut meja belajarku. Mereka jadi saksi bisu, bahkan menjadi rekan merenungkan kenyataan. Menjadi rekan saat diri ini memacu pikiran di jam yang seharusnya digunakan untuk merebahkan diri, memejamkan mata, dan mengistirahatkan raga. Padahal entah garis finish mana yang coba dicapai. Sesekali, pikiran ini tertambat pada dermaga masa depan. Dermaga yang masih sangat jauh letaknya dan belum tergambarkan seperti apa wujudnya.


***

            Semesta memang berpihak kepadaku. Pada suatu kepanitian kampus—kepanitian skala universitas yang diikuti oleh semua mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan—yang kuikuti pada tahun ketigaku menjabat gelar seorang mahasiswa, asa itu mulai muncul. Asa yang muncul karena pertemuanku dengan Gendis, mahasiswi tahun kedua dari jurusan Sistem Informasi. Sama seperti namanya, parasnya pun semanis gula jawa. Lesung pipi yang terukir sepasang di ujung senyum manisnya menegaskan dia merupakan pribadi yang ramah. Binar yang mencuat dari matanya pun menggambarkan optimisme yang selalu membara dalam dirinya. Meski membara, bisa kujumpai keteduhan dalam dirinya. Apakah ini ‘rumah’ yang bisa kutinggali? Atau bahkan kusungguhi? Sebab rumahku tidak nyaman untuk ditinggali.

               “Hai, Gendis. Aku Reno, salam kenal untuk perjumpaan kita yang pertama ini,” ucapku seraya mengajaknya berjabat tangan. Tanda awal sebuah perkenalan.

            Eh, hai juga Reno,”  ucapnya terkejut. Mungkin ia terkejut dengan caraku berkenalan? Mungkin ia terkejut mengapa aku mengajaknya berjabat tangan? Atau mungkin dia tidak pernah berkenalan sambil berjabat tangan? Mungkinkah ini terlalu formal? Tapi hal itu tidak penting, sebab dia pun membalas jabatan tanganku, tanda awal sebuah perkenalan.

              “Senang berkenalan denganmu. Sepertinya kita sama-sama berada dalam satu divisi. Semoga bisa bekerja sama ya,” ucapku penuh keyakinan. Meski ini merupakan pengalaman pertamaku mengikuti kepanitiaan. Pengalaman pertamaku menjadi sekretaris. Dan juga pengalaman pertama membuka diri di dunia perkuliahan. Meskipun bisa dibilang terlambat sebab aku sudah semester 6, tapi tidak apa.

                “Ya! Semoga kita bisa bekerja sama. Aku tidak sabar untuk segera terlibat dalam acara ini,” ucapan itu diakhiri oleh senyum tipis. Senyum yang meski tipis sudah mampu menyembulkan lesung pipinya.


*** 

            Tiga bulan setelah perjumpaan pertamaku dengan Gendis, relasi kami berjalan semakin baik. Seperti rekan kerja yang menunjukkan profesionalismenya, kami berkolaborasi menyelesaikan tugas-tugas kami sebagai seorang sekretaris. Mulai dari penyusunan anggaran dana beserta proposal acara, membuat berbagai surat untuk kepentingan masing-masing divisi; surat peminjaman ruangan dan alat untuk divisi perlengkapan, surat pengajuan sponsorship untuk divisi dana usaha, dan entah berapa banyak surat lainnya yang sudah kami selesaikan. Semua tugas sebagai seorang sekretaris dalam kepanitiaan, kami selesaikan di sela-sela kesibukan kami masing-masing. Kesibukan kuliah, mengerjakan tugas, atau mungkin pacaran. Jelas yang terakhir itu tidak mungkin kulakukan, sebab memang tidak ada seseorang yang bisa kuajak pacaran. Yang terakhir itu mungkin dilakukan oleh Gendis. Entah dengan siapa dia melakukannya, aku tidak tahu. Atau mungkin dia sama sepertiku, tidak pacaran? Mungkin karena memang tidak ada seseorang yang bisa mengajaknya pacaran? Atau mungkin karena dia tidak mau untuk diajak pacaran? Entahlah. Hingga saat ini, aku sama sekali tidak pernah berani menanyakan hal tersebut kepadanya. Bagiku, menanyakan hal seperti itu padanya, merupakan hal di luar tugas kami sebagai sekretaris dalam kepanitiaan. Di sisi lain, aku juga sangat takut mendengar responsnya. Bisa saja respons tersebut tidak sesuai dengan harapanku. Tapi memangnya aku berharap apa darinya? Lagi-lagi, entahlah. Kepalaku seakan berputar-putar bila memikirkan hal ini.

            Selain dikerjakan di sela-sela kesibukan kami masing-masing, beberapa kali aku mengajak Gendis untuk mengerjakan di kedai kopi. Ya, tempat tersebut memang lebih layak disebut dengan sebutan kedai kopi daripada coffee shop. Sebab dari segi harga tidak terlalu mahal, dan terdapat Wi-Fi yang cukup ngebut. Colokan listrik pun banyak, jadi tidak khawatir bila baterai laptop usang ini habis. Maklum, laptop ini sudah lama dan baterainya sudah ‘bocor’. Oiya, kedai kopi ini bukan angkringan Mas Haris, lho...

              Dari sepuluh kali ajakanku, hanya satu yang ditolak Gendis. Itu pun karena dia sudah ada janji menemani sepupunya berbelanja di Mirota Kampus. Selebihnya, dia selalu mengatakan, “Ya, ayo. Gas aja. Biar cepat selesai dan gak jadi tanggungan”. Setelah itu, kami langsung bergegas menuju kedai kopi. Terkadang juga, aku memilih untuk berangkat bersama. Menjemput Gendis terlebih dahulu. Lalu, bergegas bersama menuju kedai kopi. Melaksanakan kewajiban yang wajib kami lakukan. Ya, sekadar melaksanakan kewajiban, bukan yang lain, atau bahkan pacaran. Setelah selesai melaksanakan kewajiban, Gendis pun kuantar kembali menuju kosnya. Meskipun ia sering menolak, katanya, “Ihh, kan kosku jauh, kasihan kamu.” Tapi bagiku, perkataan Gendis tadi bukan sebuah penolakan, karena sebagai seorang lelaki sejati pantang halnya membiarkan perempuan untuk pulang sendiri, apalagi hari sudah malam. Jalan Kota Jogja yang penuh keromantisan jadi saksi perjalanan kami saat itu. Lagi-lagi semesta berpihak kepadaku, tiada penghalang untukku merasakan romantisme dari kota ini. Sorot bulan purnama bagaikan lampu pentas yang sedang menyoroti kedua pemeran di panggung kehidupan. Rasanya tidak ingin kuselesaikan pementasan ini.  


***

            Hari ini­—setelah lima bulan melakukan persiapan—rangkaian acara kepanitiaan resmi selesai, begitu juga dengan malam puncak ini. Semua yang sudah kami persiapkan berjalan dengan lancar. Bapak rektor memberikan respons yang baik seraya menjabat tangan kami. Terdengar pula suara telapak tangan yang saling beradu dari para tamu undangan yang menghadiri acara Dies Natalis. Dalam diriku, aku merasa bangga dengan pencapaianku ini. Tak pernah terpikirkan bahwa aku bisa terlibat dan bekerja sama dengan banyak orang.

           “Selamat Reno! Akhirnya kita berhasil,” ucap Gendis mengagetkanku. Ucapannya memang mengagetkanku yang tengah tenggelam dalam euforia diri. Tapi yang lebih mengagetkan lagi, ucapan tersebut diikuti oleh pelukan erat yang tertambat pada diriku. Benar-benar erat, seperti ditali rasanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya, aku bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari dirinya, dan aku bisa merasakan kenyamanan yang selama ini belum pernah aku rasakan, sekalipun di rumahku, di keluargaku. Tubuhku hanya bisa mematung, aku tenggelam lagi. Aku tak bergerak sedikit pun, dan aku juga tak merespons apapun. Aku hanya diam. Tapi tidak dengan pikiran ini. Pikiran ini berkeliaran kemana-mana. Mempertanyakan, “Apa maksud ini semua?”, “Apakah ini ada artinya?”, “Apakah ini sebuah tanda ?”, “Atau ini hanya euforia belaka?”

                “Ren, Reno! Kok diam saja?” Gendis melepaskan pelukan itu. Pelukan yang begitu erat. Melepaskan semua kenyamanan yang rasanya hanya sesaat. Melepaskan harapan yang sempat kutaruh meski hanya sesaat tatkala pelukan itu datang. Lalu hilang lagi. Aku linglung. Ia menatap mataku. Aku kaget, panik, tapi coba tetap tenang.

                Ehh, gapapa kok. Aku hanya terharu karena bisa sampai di titik ini. Selamat juga Gendis! Terima kasih sudah mau bekerja sama denganku. Terima kasih sudah memberikan pengalaman yang berharga bagiku. Akhirnya kita berhasil!” ucapku sambil coba menahan air mata agar tak menetes.

 

***

Percakapanku dengan Gendis kala itu menjadi yang terakhir kalinya. Tiada lagi dialog yang bisa kubangun dengannya. Tiada lagi alasan bagiku untuk menghubunginya lagi. Tiada, sama sekali tidak ada. Asa itu pun sudah redup, bahkan mati. Aku benci situasi seperti ini. Situasi yang sama sekali tidak bisa kukendalikan. Siapa yang salah? Jelas aku yang salah. Sedari kecil, aku selalu menjadi orang yang salah. Salah ambil keputusan, salah bertindak berdasarkan keputusan yang tepat, bahkan lahir ke dunia saja merupakan kesalahan bagiku. Sekarang, kesalahanku ialah terlalu berharap padanya. Meletakkan kenyamanan menyusuri lautan dunia ini kepada orang yang baru kukenal dalam kepanitiaan tersebut. Memang menyedihkan sekali menjadi diri ini. Dan sekarang, apa yang bisa kulakukan? Tidak ada, selain menjadi ‘si penyendiri’.

Sendiri bukanlah suatu yang menyedihkan. Aku sudah terbiasa sejak SMA, bahkan sejak kecil. Selain menjadi orang yang selalu salah, sejak kecil aku selalu sendiri. Kedua orang tuaku sibuk bekerja demi menyambung kehidupan. Mereka meninggalkan rumah saat pagi buta dan kembali saat matahari sudah tak bersinar. Mereka memang baik, tapi ketika mereka lelah, mereka menyalahkanku. Seolah-olah apa yang mereka lakukan demi memenuhi kebutuhanku. Pun menyalahkanku atas studi yang tak kunjung tuntas.

“Kapan kamu mau lulus? Sudah semester 10 belum juga selesai!”

Itulah ucapan yang sering keluar dari mulut mereka. Ucapan yang membuatku tertekan dan tak merasa ini rumahku. Padahal, apakah itu kemauanku? Kesalahanku? Siapa juga yang tidak ingin segera lulus? Aku selalu mengusahakan itu, tapi belum kunjung tiba hasilnya. Entahlah, aku bingung. Tapi tenang, semua itu sudah bisa kunikmati layaknya menyantap makanan yang lezat. Kulahap habis sendirian dan tak kubiarkan bersisa sedikit pun.

Sekarang, selepas kepergian Gendis, aku kembali hanya punya aku. Asa yang tadinya muncul dan kuharapkan muncul dari Gendis, sekarang sirna.


***

Dinginnya angin malam seolah menyadarkanku dari rangkain peristiwa kala itu. Menyadarkanku bahwa peristiwa itu sudah berlalu. Yang ada sekarang hanyalah diri ini sendiri, yang sebentar lagi akan sampai di basecamp pendakian Gunung Sumbing. Basecamp itu berada di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Jalan yang kulalui kian berkabut. Kabut malam kian rapat menutup jarak pandang terhadap sesuatu yang ada di depanku. Udara semakin dingin hingga menusuk tulangku, sedangkan ingatan itu, menusuk hatiku. Kendaraan semakin kupacu, ingin rasanya segera tiba dan segera menghangatkan tubuh ini.

Malam memang gelap, halimun kian rapat, tapi bayangan gunung itu seperti bisa kulihat dengan jelas. Benar saja, di depan sana kujumpai plang jalan yang mengarahkanku untuk belok dan masuk ke jalan kecil. Jalan yang awalnya luas, halus, dan rata, sekarang berganti menjadi kecil, bergelombang, dan tidak rata. Jalan tersebut memang bukan jalan yang dipenuhi banyak kerikil, tetapi jalan tersebut bukan juga jalan yang dibalut oleh aspal lagi. Hanya jalan cor desa yang mulai mengelupas. Jalan tersebut pun hanya muat dilewati oleh satu kendaraan roda dua. Bila berpapasan, salah satunya harus berhenti sebentar agar kendaraan lainnya bisa tetap lewat. Kanan dan kiri jalan dihiasi oleh rumah-rumah yang berdekatan. Bila cuaca cerah, terlihat dari kejauhan bahwa rumah-rumah tersebut membentuk terasering dengan latar belakang Gunung Sumbing. Nepal Van Java sebutannya. Julukan yang muncul karena deretan rumah dengan latar belakang Gunung Sumbing tersebut, punya kemiripan dengan Pegunungan Himalaya di Nepal.

Setelah melalui perjalanan tersebut, sampailah aku di basecamp. Bentuknya seperti rumah pada umumnya, hanya saja rumah ini dimanfaatkan oleh penduduk desa sebagai basecamp pendakian. Ukurannya cukup besar untuk sebuah rumah. Wajar saja, karena luas tanah yang dimiliki pun cukup luas. Pemandangan yang jarang kutemukan saat berada di Jogja. Halaman depan rumah tersebut juga cukup luas sehingga dimanfaatkan untuk memarkir motor pendaki.

Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Halimun kian pekat, udara kian dingin, suhu menunjukkan di angka 8 derajat. Suhu udara yang sangat jarang kurasakan. Kuputuskan untuk tetap terjaga sembari menunggu fajar menyembul dari ufuk timur. Perjalanan akan ku mulai saat udara sudah tak lagi menusuk tulangku. Sembari menunggu, kuseduh kopi hitam sebagai kawanku. Tidak hanya menunggu, mungkin merenung juga.

 

***

           Sang fajar mulai menunjukkan dirinya. Mengusir halimun yang sedari tadi berkuasa akan alam ini. Sengatannya kembali menyadarkanku tentang apa yang harus kulakukan sekarang. Segera kukemasi carrier-ku. Kupastikan semua peralatan lengkap. Tenda, matras, sleepingbag, kompor, nesting, headlamp, jaket, sarung tangan, dan bekal makanan beserta air sudah tertata rapi di dalam carrier. Aku siap memulai perjalananku ini. Perjalanan melupakan Gendis dan segala kenangannya. Segala harapan, harapan yang kubangun sendiri. Merayakan kesendirianku dan mulai berdamai.

            Baru beberapa ratus meter aku melangkah, gawai dalam kantongku berbunyi. Notifikasi yang sepertinya kukenali.

 

                        GENDIS

 

           Selamat ulang tahun yang ke-24, Reno! Sehat selalu! Semoga segera menyelesaikan studimu. Salam hangat.

 

Tepat hari ini hari ulang tahunku. Kurayakan dengan mendaki gunung seorang diri. Perayaan tanpa seseorang pun.