Selasa, 15 November 2022

 Sibuk

Sibuk mengejar harta

Sibuk mengejar cinta

Sibuk mengejar dia

Sibuk mengejar dunia

Sebenarnya apa yang kau cari?

Hingga kau lupa diri,

hingga sibuk sendiri.

 Terlampau Egois

Mauku kita selalu bersama

Kau tak boleh dengan lainnya

Mauku kau menyayangiku

Kau tak boleh meninggalkanku

Mauku kita berkomitmen

Kau tak boleh independen

Apa yang kau prioritas kan?

Dirinya?

atau sebatas ego yang kau paksakan?

Senin, 14 November 2022

 

Manusia

Kumpulan Puisi Ignatiusbulele

Kisah

Pojok lantai satu Mcd Jakal

jadi cerita kala itu.

Kala saya tertalalu khawatir

dengan seseorang yang bukan siapa-siapa saya.

Lekas pulih,

Lekas berdamai,

wahai diriku.

 

Perjalanan

Menerjang terjang,

merengkuh riuh,

bergegas memacu gas.

Di keujungan terdapat tuan

menanti puan setiti,

berkepung kerinduang berkeping.

 

Ovt

Puan putri sudah siap untuk merayu

sedang tuan putra masih sibuk merayau.

Sibuk menggali memoar kalbu.

Sibuk menimbun gores lampau.

“Ahhh, cuplikan itu mencuat kembali”

Mengangkasa di lautan pikir tuan putra

tak terasa jarum bergulir melewat 1/3 malam.

Semoga segera melupa,

semoga segera menghilang kelam.


Ujung Jendela Kota

Gemerlap kerlip di ujung sana

Ingar-ingar di tengah lamunan kota

Namun, ia termenung

Lubuk hati menggerung

Tenggelam dalam romansa

Dalam dekap bumi yang fana

 

Manusia

M

Ma

Man

Manu

Manus

Manusi

Manusia

Bertambah usia

Semakin memanusiakan,

MANUSIA.


IgnatiusBulele -


 Patung Hidup yang Muncul Tiba-Tiba

Sebuah Esai Ignatiusbulele



Apa yang ada di benak Anda jika mendengar profesi tukang parkir? Tukang parkir ialah salah satu profesi yang banyak dijumpai di setiap tempat yang kita kunjungi. Profesi tersebut idealnya bekerja membantu pengendara motor maupun mobil untuk dapat keluar-masuk suatu tempat. Namun, di beberapa tempat, banyak tukang parkir yang tidak bekerja secara ideal. Dalam artian hanya sebagai patung hidup yang muncul tiba-tiba dan memintai ongkos parkir kepada para driver. Hal tersebut menjadi sebuah fenomena baru yang banyak diperbincangka di linimasa.

Fonemena tersebut pun saya jumpai pada tulisan di laman mojok.co. Pada laman tersebut tertulis, “Profesi tukang parkir motor dan mobil sudah sering jadi meme dan bahan bercanda di media sosial. Paling sering, wacana yang bergulir seperti ini, ‘Fotocopy habis lima ratus perak, bayar parkirnya dua ribu.’ Atau, ada juga wacana lain, ‘Tukang parkir Indomaret itu kayak hantu, datang tak dijemput tiba-tiba udah niup peluit aja minta duit. Memang, tujuan bekerja adalah cari uang, tapi ada lho yang kerjane minimal, tapi hasilnya maksimal. Ya jenis ini yang saya maksud, tukang parkir patung. Udah disuruh parkir mandiri, tapi kalau ada pemilik motor pergi, langsung mak plencing menghampiri. Udah nggak diparkirin, dikasih aba-aba, tapi kalau udah waktunya bayar langsung bergegas.”

Hal tersebut juga pernah saya rasakan ketika datang ke salah satu kedai. Kedai termpat bersantai sekaligus bekerja. Datang dengan kesunyian, pulang diiringi bunyi tiupan. “Pritttttt!”, terdengar dari kejauhan suara itu. Tiupan pluit penghilang duit tiga ribu perak. Dengan cepat duit berpindah ke kantung lelaki berpluit itu yang sekejap hilang tak berbentuk.

Mengalami peristiwa itu membuat saya berpikir bahwa enak sekali pekerjaan mereka, duduk manis bak “patung hidup” dan muncul tiba-tiba memintai ongkos. Saya pribadi sebenarnya tidak masalah mengeluarkan biaya parkir. Namun, mereka seharusnya tetap melakukan pekerjaannya secara ideal dan sesuai dengan porsinya, yaitu membantu para driver keluar-masuk lokasi tersebut. Semoga, esok hari kita tak bertemu dengan “patung hidup” itu lagi.


BSD, 22/09/22

Mari Merefleksikan Diri

Kumpulan Puisi Ignatiusbulele

Cara Kita Beda

Aku lelaki

Kau perempuan

Aku suka makan babi

Sedang kau menyentuhnya pun enggan

 

Tiap pagi kau bangun subuh

Mengucap Alhamdulillah

Tiap pagi ku saat teduh

Mengucap Hallelujah

 

Kala Pagi

Pagi itu kita sama-sama terbangun

Di atas dipan masing-masing tertegun

Kau mengambil air wudu kemudian salat

Sedang aku mandi, lalu mengikuti misa dengan hikmat

Semua telah berlalu

Kamu dengan duniamu

Aku dengan duniaku

 

Kala Siang

Siang itu mentari sedang panas-panasnya

Namun tidak dengan dua insan di ujung jalan

Berhadapan dengan dua tangan bergandengan

Seperti menunggu sesuatu datang menghampirinya

Tanpa kata, tanpa suara

Sama-sama memiliki rasa, tetapi tak memiliki muara

 

Kala Malam

Malam itu cuaca sedang cerah

Tapi hati ini dipenuhi kabut

Tak jelas, tak berarah

Banyak yang belum selesai

Dipikirkan hingga dahi mengerut

Tak jua ku temui jawab dan solusi