Sibuk
Sibuk mengejar harta
Sibuk mengejar cinta
Sibuk mengejar dia
Sibuk mengejar dunia
Sebenarnya apa yang kau cari?
Hingga kau lupa diri,
hingga sibuk sendiri.
Sebuah wadah tulisan pribadi, kelompok, dan siapa pun; yang pernah saya jumpai dalam perjalanan, persantaian, dan pekerjaan di dunia ini.
Pojok
lantai satu Mcd Jakal
jadi
cerita kala itu.
Kala
saya tertalalu khawatir
dengan
seseorang yang bukan siapa-siapa saya.
Lekas
pulih,
Lekas
berdamai,
wahai
diriku.
Menerjang
terjang,
merengkuh
riuh,
bergegas
memacu gas.
Di
keujungan terdapat tuan
menanti
puan setiti,
berkepung
kerinduang berkeping.
Puan
putri sudah siap untuk merayu
sedang
tuan putra masih sibuk merayau.
Sibuk
menggali memoar kalbu.
Sibuk
menimbun gores lampau.
“Ahhh,
cuplikan itu mencuat kembali”
Mengangkasa
di lautan pikir tuan putra
tak
terasa jarum bergulir melewat 1/3 malam.
Semoga
segera melupa,
semoga segera menghilang kelam.
Gemerlap
kerlip di ujung sana
Ingar-ingar
di tengah lamunan kota
Namun,
ia termenung
Lubuk
hati menggerung
Tenggelam
dalam romansa
Dalam
dekap bumi yang fana
M
Ma
Man
Manu
Manus
Manusi
Manusia
Bertambah usia
Semakin memanusiakan,
Apa yang ada di benak Anda jika mendengar
profesi tukang parkir? Tukang parkir ialah salah satu profesi yang banyak
dijumpai di setiap tempat yang kita kunjungi. Profesi tersebut idealnya bekerja
membantu pengendara motor maupun mobil untuk dapat keluar-masuk suatu tempat.
Namun, di beberapa tempat, banyak tukang parkir yang tidak bekerja secara
ideal. Dalam artian hanya sebagai patung hidup yang muncul tiba-tiba dan
memintai ongkos parkir kepada para driver. Hal tersebut menjadi sebuah
fenomena baru yang banyak diperbincangka di linimasa.
Fonemena tersebut pun saya jumpai pada tulisan
di laman mojok.co. Pada laman tersebut tertulis, “Profesi
tukang parkir motor dan mobil sudah sering jadi meme dan bahan bercanda di
media sosial. Paling sering, wacana yang bergulir seperti ini, ‘Fotocopy habis
lima ratus perak, bayar parkirnya dua ribu.’ Atau, ada juga wacana lain, ‘Tukang
parkir Indomaret itu
kayak hantu, datang tak dijemput tiba-tiba udah niup peluit aja minta duit.
Memang, tujuan bekerja adalah cari uang, tapi ada lho yang kerjane minimal,
tapi hasilnya maksimal. Ya jenis ini yang saya maksud, tukang parkir patung.
Udah disuruh parkir mandiri, tapi kalau ada pemilik motor pergi, langsung mak
plencing menghampiri. Udah nggak diparkirin, dikasih aba-aba, tapi kalau udah
waktunya bayar langsung bergegas.”
Hal tersebut juga pernah saya
rasakan ketika datang ke salah satu kedai. Kedai termpat bersantai sekaligus bekerja. Datang
dengan kesunyian, pulang diiringi bunyi tiupan. “Pritttttt!”, terdengar dari
kejauhan suara itu. Tiupan pluit penghilang duit tiga ribu perak. Dengan cepat duit berpindah ke kantung
lelaki berpluit itu yang sekejap hilang tak berbentuk.
Mengalami peristiwa itu membuat
saya berpikir bahwa enak sekali pekerjaan mereka, duduk manis bak “patung
hidup” dan muncul tiba-tiba memintai ongkos. Saya pribadi sebenarnya tidak
masalah mengeluarkan biaya parkir. Namun, mereka seharusnya tetap melakukan
pekerjaannya secara ideal dan sesuai dengan porsinya, yaitu membantu para driver keluar-masuk lokasi tersebut. Semoga,
esok hari kita tak bertemu dengan “patung hidup” itu lagi.
BSD, 22/09/22
Aku lelaki
Kau perempuan
Aku suka makan babi
Sedang kau menyentuhnya pun enggan
Tiap pagi kau bangun subuh
Mengucap Alhamdulillah
Tiap pagi ku saat teduh
Mengucap Hallelujah
Pagi itu kita sama-sama terbangun
Di atas dipan masing-masing tertegun
Kau mengambil air wudu kemudian salat
Sedang aku mandi, lalu mengikuti misa dengan hikmat
Semua telah berlalu
Kamu dengan duniamu
Aku dengan duniaku
Siang itu mentari sedang panas-panasnya
Namun tidak dengan dua insan di ujung jalan
Berhadapan dengan dua tangan bergandengan
Seperti menunggu sesuatu datang menghampirinya
Tanpa kata, tanpa suara
Sama-sama memiliki rasa, tetapi tak memiliki muara
Malam itu cuaca sedang cerah
Tapi hati ini dipenuhi kabut
Tak jelas, tak berarah
Banyak yang belum selesai
Dipikirkan hingga dahi mengerut
Tak jua ku temui jawab dan solusi